Pernah menerima pesan WhatsApp berisi “undangan pernikahan” berformat APK, kabar paket tertukar yang meminta scan QR, atau pemberitahuan perubahan tarif bank yang meminta mengisi formulir? Pesan-pesan seperti itu kini semakin sering beredar, dan tidak sedikit warga yang menjadi korban.
Untuk membantu warga mengenali pesan penipuan sebelum terlanjur menjadi korban, Nosa Shandy, praktisi keamanan siber asal Kota Pasuruan, mengembangkan TANGKIS-AI (Tanggap Kejahatan Siber berbasis AI). TANGKIS-AI adalah aplikasi web berbasis kecerdasan buatan yang dapat diakses gratis langsung dari HP.
Table of Contents
Penipuan digital terus meningkat
Data Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) yang dikelola Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat 579.459 laporan penipuan sejak November 2024 hingga akhir Mei 2026. Jawa Timur menjadi provinsi dengan laporan terbanyak ketiga di Indonesia, yaitu 81.548 laporan. Secara nasional, kerugian masyarakat akibat penipuan mencapai sekitar Rp9,1 triliun, dengan rata-rata sekitar 1.000 laporan baru setiap hari.
Modus yang paling banyak dilaporkan antara lain penipuan transaksi belanja, telepon palsu yang mengaku dari pihak tertentu, investasi bodong, dan lowongan kerja palsu. Di grup-grup WhatsApp warga juga marak beredar file APK berkedok undangan atau foto paket, tilang elektronik palsu, hingga modus refund palsu melalui QRIS.
“Masalahnya, sebagian besar korban baru sadar setelah uangnya hilang. Padahal sebenarnya ada tanda-tanda yang bisa dikenali sejak awal. TANGKIS-AI dibuat supaya warga punya tempat untuk bertanya dulu sebelum mengklik link, menginstal file, atau mentransfer uang,” ujar Nosa.
Cukup tempel pesan atau unggah screenshot
Cara memakai TANGKIS-AI sangat sederhana. Warga cukup membuka https://tangkis.yadikazone.my.id/ dari HP, lalu menempelkan isi pesan atau mengunggah screenshot pesan yang mencurigakan, dan menekan tombol “Tangkis Sekarang”.
Dalam hitungan detik, TANGKIS-AI menampilkan hasil penilaian dalam tiga kategori: kemungkinan besar penipuan, hati-hati, atau tidak ditemukan tanda penipuan. Hasil ini dilengkapi nama modus penipuan yang cocok, alasan dalam bahasa sederhana, serta langkah yang harus dilakukan.
Bagi warga yang sudah terlanjur mengklik link, menginstal aplikasi, memberikan kode OTP, atau mentransfer uang, TANGKIS-AI juga menyediakan panduan langkah darurat, seperti segera menghubungi bank dan melapor ke kanal resmi. Makin cepat dilaporkan, makin besar peluang dana korban dapat diselamatkan.
Warga juga bisa bertanya lanjutan tentang pesan yang sama, misalnya “Saya sudah membalas pesannya, bahaya tidak?”, dan membagikan peringatan ke keluarga melalui WhatsApp dengan satu ketukan.
Ada halaman edukasi modus penipuan
Selain fitur pengecekan, TANGKIS-AI dilengkapi halaman “Kenali Modus” yang menjelaskan berbagai modus penipuan yang sering beredar, lengkap dengan contoh pesan, tanda-tanda yang perlu diwaspadai, dan cara menghadapinya. Tersedia juga kumpulan kasus nyata sebagai bahan pembelajaran bagi warga.
Pesan warga tidak disimpan
Dari sisi keamanan, TANGKIS-AI dirancang dengan memperhatikan perlindungan data pribadi. Pesan dan gambar yang dicek warga tidak disimpan. Data pribadi seperti nomor HP, NIK, dan nomor rekening juga disamarkan secara otomatis sebelum diproses AI. Yang dicatat hanya statistik anonim, seperti jumlah pengecekan dan jenis modus yang paling banyak ditemukan.
Meski demikian, [Nosa] mengingatkan bahwa hasil TANGKIS-AI merupakan penilaian awal. “AI bisa keliru. Jadi untuk kepastian, tetap verifikasi lewat kanal resmi, misalnya call center bank yang tertera di balik kartu ATM atau aplikasi resmi,” katanya.
Ajak warga mencoba
TANGKIS-AI saat ini tengah memasuki tahap uji coba dan terbuka untuk digunakan oleh seluruh warga. Aplikasi ini gratis, tidak perlu instal, dan tidak perlu mendaftar akun. Warga dapat mencobanya di https://tangkis.yadikazone.my.id/, dan memberikan masukan melalui tombol umpan balik yang tersedia di halaman hasil.
TANGKIS-AI juga diikutsertakan dalam Lomba Inovasi Daerah Reka Karsa Cipta 2026 yang diselenggarakan Pemerintah Kota Pasuruan.